Talenta sering disebut sebagai kunci kemajuan.
Namun, siapa yang sesungguhnya disebut “talenta”? Siapa yang diberi ruang untuk tumbuh, memimpin, dan menentukan arah organisasi—dan siapa yang tersisih secara diam-diam?
Buku ini mengajak pembaca menelusuri relasi yang kerap luput dibicarakan secara jujur: hubungan antara talenta dan kekuasaan. Dalam praktik kebijakan sumber daya manusia, meritokrasi tidak pernah hadir di ruang hampa. Ia bernegosiasi dengan struktur, kepentingan, patronase, teknologi, bahkan mitos yang dibangun organisasi tentang keunggulan dan kepantasan.
Melalui kajian lintas sektor—mulai dari birokrasi publik, organisasi hibrida, hingga sektor swasta—buku ini menunjukkan bagaimana sistem merit, manajemen talenta, dan kebijakan SDM dapat menjadi instrumen keadilan, tetapi juga berpotensi berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan jika tidak diawasi secara kritis. Data empiris terkini, pengalaman reformasi di Indonesia, serta diskursus global tentang AI, big data, dan tata kelola SDM memperlihatkan bahwa tantangan utama hari ini bukan hanya menemukan talenta terbaik, melainkan menciptakan sistem yang adil, transparan, dan berdaya tahan.
Ditulis oleh seorang akademisi dan pemberdaya masyarakat, buku ini tidak berhenti pada kritik. Ia menawarkan kerangka konseptual, pembelajaran kebijakan, dan desain intervensi yang dapat digunakan oleh dosen, peneliti, aparatur negara, pimpinan organisasi, dan siapa pun yang percaya bahwa pengelolaan talenta adalah soal masa depan keadilan sosial dan kualitas kepemimpinan.
Buku ini bukan sekadar tentang SDM.
Ia adalah ajakan untuk berpikir ulang: apakah sistem kita benar-benar memuliakan kompetensi, atau hanya merapikan kekuasaan dengan bahasa meritokrasi?





Ulasan
Belum ada ulasan.